Tanah Putra Bumi Turang

Tanah Karo seribu cerita dan Seribu eksotika

Archive for the day “Desember 11, 2011”

Sitik sitik kel…

Suku Karo adalah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan menjadi salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas…
Warna merah biasanya di gunakan Untuk acara kemeriahan seperti Adat pernikahan dan Baju warna Hitam Biasanya digunakan Di acara kemalangan………

Iklan

Wilayah penyukuan suku karo

Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

Kabupaten Karo
terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau “Taneh Karo Simalem”. Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Kota Medan

Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Kota Binjai

Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi

Wilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:

  • Kecamatan Taneh Pinem
  • Kecamatan Tiga Lingga
  • Kecamatan Gunung Sitember

Kabupaten Aceh Tenggara

Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:

  • Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
  • Kecamatan Simpang Simadam

Tutur siwaluh…

Tutur siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan penuturan, yaitu terdiri dari delapan golongan:

  1. puang kalimbubu
  2. kalimbubu
  3. senina
  4. sembuyak
  5. senina sipemeren
  6. senina sepengalon/sedalanen
  7. anak beru
  8. anak beru menteri

Dalam pelaksanaan upacara adat, tutur siwaluh ini masih dapat dibagi lagi dalam kelompok-kelompok lebih khusus sesuai dengan keperluan dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:

  1. Puang kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang
  2. Kalimbubuadalah kelompok pemberi isteri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dapat dikelompokkan lagi menjadi:
    • Kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua, yaitu kelompok pemberiisteri kepada kelompok tertentu yang dianggap sebagai kelompok pemberi isteri adal dari keluarga tersebut. Misalnya A bermerga Sembiring bere-bere Tarigan, maka Tarigan adalah kalimbubu Si A. Jika A mempunyai anak, maka merga Tarigan adalah kalimbubu bena-bena/kalimbubu tua dari anak A. Jadi kalimbubu bena-bena atau kalimbubu tua adalah kalimbubu dari ayah kandung.
    • Kalimbubu simada dareh adalah berasal dari ibu kandung seseorang. Kalimbubu simada dareh adalah saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang. Disebut kalimbubu simada dareh karena merekalah yang dianggap mempunyai darah, karena dianggap darah merekalah yang terdapat dalam diri keponakannya.
    • Kalimbubu iperdemui, berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu oleh karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya. Jadi seseorang itu menjadi kalimbubu adalah berdasarkan perkawinan.
  3. Senina, yaitu mereka yang bersadara karena mempunyai merga dan submerga yang sama.
  4. Sembuyak, secara harfiah se artinya satu dan mbuyak artinya kandungan, jadi artinya adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama. Namun dalam masyarakat Karo istilah ini digunakan untuk senina yang berlainan submerga juga, dalam bahasa Karo disebut sindauh ipedeher (yang jauh menjadi dekat).
  5. Sipemeren, yaitu orang-orang yang ibu-ibu mereka bersaudara kandung. Bagian ini didukung lagi oleh pihak siparibanen, yaitu orang-orang yang mempunyai isteri yang bersaudara.
  6. Senina Sepengalon atau Sendalanen, yaitu orang yang bersaudara karena mempunyai anak-anak yang memperisteri dari beru yang sama.
  7. Anak beru, berarti pihak yang mengambil isteri dari suatu keluarga tertentu untuk diperistri. Anak beru dapat terjadi secara langsung karena mengawini wanita keluarga tertentu, dan secara tidak langsung melalui perantaraan orang lain, seperti anak beru menteri dan anak beru singikuri.Anak beru ini terdiri lagi atas:
    • anak beru tua, adalah anak beru dalam satu keluarga turun temurun. Paling tidak tiga generasi telah mengambil isteri dari keluarga tertentu (kalimbubunya). Anak beru tua adalah anak beru yang utama, karena tanpa kehadirannya dalam suatu upacara adat yang dibuat oleh pihak kalimbubunya, maka upacara tersebut tidak dapat dimulai. Anak beru tua juga berfungsi sebagai anak beru singerana (sebagai pembicara), karena fungsinya dalam upacara adat sebagai pembicara dan pemimpin keluarga dalam keluarga kalimbubu dalam konteks upacara adat.
    • Anak beru cekoh baka tutup, yaitu anak beru yang secara langsung dapat mengetahui segala sesuatu di dalam keluarga kalimbubunya. Anak beru sekoh baka tutup adalah anak saudara perempuan dari seorang kepala keluarga. Misalnya Si A seorang laki-laki, mempunyai saudara perempuan Si B, maka anak Si B adalah anak beru cekoh baka tutup dari Si A. Dalam panggilan sehari-hari anak beru disebut juga bere-bere mama.
  8. Anak beru menteri, yaitu anak berunya anak beru. Asal kata menteri adalah dari kata minteri yang berarti meluruskan. Jadi anak beru minteri mempunyai pengertian yang lebih luas sebagai petunjuk, mengawasi serta membantu tugas kalimbubunya dalam suatu kewajiban dalam upacara adat. Ada pula yang disebut anak beru singkuri, yaitu anak berunya anak beru menteri. Anak beru ini mempersiapkan hidangan dalam konteks upacara adat.

Kegiatan/ Upacara kita kalak karo

Kegiatan Budaya Karo

  • Merdang merdem = “kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
  • Mahpah = “kerja tahun” yang disertai “Gendang guro-guro aron”.
  • Mengket Rumah Mbaru – Pesta memasuki rumah (adat – ibadat) baru.
  • Mbesur-mbesuri – “Ngerires” – membuat lemang waktu padi mulai bunting.
  • Ndilo Udan – memanggil hujan.
  • Rebu-rebu – mirip pesta “kerja tahun”.
  • Ngumbung – hari jeda “aron” (kumpulan pekerja di desa).
  • Erpangir Ku Lau – penyucian diri (untuk membuang sial).
  • Raleng Tendi – “Ngicik Tendi” = memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
  • Motong Rambai – Pesta kecil keluarga – handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
  • Ngaloken Cincin Upah Tendi – Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
  • Ngaloken Rawit – Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) – keponakan laki-laki.

Sifat kita kalak Karo

Sifat yang Biasa dimiliki Orang Karo Jujur Orang Karo umumnya tinggal di kampung. Mereka hidup dengan kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi di lingkungan tradisional tersebut. Oleh karena itu segala hal seperti memberi dan menerima dilakukan secara wajar tanpa ada kecurangan. Biasanya jika diketahui ada yang berbuat curang maka akan mendapat hukuman yang berat dari masyarakat. Tegas Orang Karo memiliki sifat tegas, cepat berpikir, dan cepat bertindak. Mereka tidak begitu lembut menghadapi suatu masalah, apalagi masalah yang dianggap prinsipil, meski sebenarnya dapat memberi risiko bagi diri sendiri ataupun keluarganya. Berani Sejak kecil seorang Karo diajar oleh orang tuanya atau neneknya bahwa setiap manusia sederajat, tidak ada yang lebih istimewa tidak ada yang lebih hina. Yang berbeda hanyalah suratan tangan dan takdirnya. Mungkin hal ini lah yang menyebabkan seorang Karo tidak pernah ragu untuk berbuat atau pergi ke mana pun. Mereka berani karena benar dan mengaku salah jika memang melakukannya. Keberanian ini juga ditunjukkan ketika berkecamuk perang antara kerajaan Deli dan kerajaan Aceh pada abad XVII dan juga perjuangan melawan penjajahan Belanda. * Percaya Diri Umumnya orang Karo percaya pada kekuatannya sendiri. Mereka jarang menggantungkan nasib pada orang lain. Sifat Tahu Malu Sifat pemalu dimiliki dengan kuat oleh orang Karo, terutama rasa malu kalau menggantungkan diri pada orang lain dan juga kalau harga diri dan nama baik keluarga sudah tercoreng. o Tidak Serakah Secara umum orang Karo tidak serakah atau tamak. Mereka memang mendambakan hidup sejahtera namun bukan melalu cara serakah. Mereka gigih mempertahankan sesuatu kalau memang itu adalah haknya. + Mudah Tersinggung dan Pendendam Kebanyakan orang Karo cepat tersinggung jika dirinya atau keluarganya dikata-katai secara negatif oleh orang lain, baik secara terbuka maupun terselubung. Kalau sudah tersinggung orang tersebut segera menjumpai orang yang menghinanya dan menyelesaikan dengan segera. Kalau tidak maka akan berlarut menjadi dendam. Biasanya dendam itu ingin dilunasi dengan cara yang kurang pertimbangan rasional. Untuk menghindari penyelesaian secara irasional, biasanya ada pihak ketiga yang berusaha mendamaikan secara adat.

Tokoh T.karo

Penemu
1. Guru Patimpus Sembiring Pelawi, Pendiri Kota Medan

Veteran Perang
1. Letjen Djamin Ginting, Pangdam BB, Pendiri Golkar, Dubes RI di Kanada
2. Mayor Selamat Ginting, Panglima Halilintar
3. Mayor Payung Bangun, Panglima Harimau Liar
4. Brigjend Ulung Sitepu, Gubernur Sumatera Utara, Namanya harus dibersihkan.
5. Brigjend Nelang Sembiring, Kapoldasu, Pendiri banyak SMA di Taneh Karo
6. Kolonel Tampak Sebayang, Walikota Binjai, Bupati Karo
7. Letkol Rakutta Brahmana, Bupati Karo, Walikota Siantar dan Tebing Tinggi
8. Letkol Koran Karo-Karo, Pengusaha dan Anggota DPR RI
9. Letkol Ngumban Surbakti, Pejuang Kemerdekaan RI
10. Letkol AR. Surbakti, Pengarang Buku ‘Perang Kemerdekaan’
11. Mayor Matang Sitepu, Bupati Karo

Menteri, Asmen, Dirjen dan Direktur
1. Malem Sambat Kaban, Menteri Pertanian, Ketua Partai PBB
2. Tifatul Sembiring, Menteri Infokom, Ketua Partai PKS
3. Prof. Firman Tambun, Asisten IV Menko Ekuin
4. Atar Sibero, Dirjen PUOD
5. Mayjend Roni Sikap Sinuraya, Dirjen Imigrasi
6. Simon F. Sembiring, Dirjen Pertambangan, Mineral dan Gas Bumi
7. Kapiten Ketaren, Hakim Agung
8. Prof. Rehngena Purba, Hakim Agung
9. MS. Sembiring, Direktur Perdagangan Bursa Efek Jakarta (BEJ)
10. Juda Sitepu, Direktur Teknik Kereta Api Indonesia (KAI)
11. Soedarti Surbakti, Direktur Badan Pusat Statistik (BPS)
12. Dan Lainnya

Jenderal
1. Letjend Djamin Ginting, Pangdam Sumatera, Pendiri Golkar, Dubes RI di Kanada
2. Letjend Arifin Tarigan, Komandan Pussenif Bandung, Komandan Seskoad
3. Letjen Amir Sembiring, Pangdam Papua, Asop KSAD
4. Mayjend Roni Sikap Sinuraya, Dirjen Imigrasi
5. Mayjend Raja Kami Sembiring, Pangdam Papua, Anggota DPR RI
6. Laksma Neken Tarigan, Mahmil Agung, Anggota DPR RI
7. Laksma Cokong Tarigan Sibero, Anggota DPR RI
8. Marsma John Dallas Sembiring,
9. Marsma Arie H. Sembiring, Danlantamal I Belawan
10. Brigjend Ulung Sitepu, Gubernur Sumatera Utara, Namanya harus dibersihkan.
11. Brigjend Nelang Sembiring, Kapoldasu, Pendiri banyak SMA di Taneh Karo
12. Brigjen Selamat Ginting, Kstaf Pangdam Siliwangi
13. Brigjend Djadiate Ginting, Komandan Pussenif Bandung
14. Brigjend Gelora Tarigan,
15. Brigjend Bakli T. Tarigan,
16. Brigjend Idaman Ginting, Komandan CPM Bali
17. Brigjend SK Ginting Munthe, Kasdam Patimura
18. Brigjend Bakty Tarigan, Direktur Pendidikan Sesko
19. Brigjend Osaka Sembiring Meliala, Kasdam Papua
20. Marsda Mburak Ginting, Aslog Kasum TNI
21. Laksda Dalam Sinuraya, Anggota DPR RI
22. Brigjend (Pol) Doni Ginting,
23. Brigjend (Pol) Seh Tarigan,
24. Brigjend (Pol) Raziman Tarigan, Wakapolda Metro Jaya
25. Kombes (Pol) Sadar Sebayang,
26. Kombes (Pol) Budiman Perangin-angin,
27. Kombes (Pol) Darman Sinuraya,
28. Kombes (Pol) Arman Depari, Direktur Narkoba Polri
29. Kombes (Pol) Musa Ginting, Direktur Reskrim Polda NTT
30. Dan Lainnya

Pendidikan
1. Prof. AT. Barus, Ahli Nuklir Pertama Indonesia, Dosen USU
2. Prof. Masri Singarimbun, Pendiri KB, Guru Besar UGM, Antropholog
3. Prof. Henry Guntur Tarigan, Guru Besar UPI Bandung, Budayawan
4. Prof. Payung Bangun, Guru Besar UKI Jakarta, Antropholog
5. Prof. Meneth Ginting, Guru Besar USU, Pakar Pertanian
6. Prof. Naik Sinukaban, Guru Besar IPB, Pakar Pertanian
7. Prof. Ramlan Surbakti, Guru Besar Unair, Wakil Ketua KPU
8. Prof. Adrianus Meliala, Guru Besar UI, Pakar Kriminolog Indonesia
9. Mestika Pincawan, Psikolog Terkenal di Jakarta
10. Dan Lainnya

Sains
1. Prof. K. Sembiring, Guru Besar ITB
2. Dan lainnya

Teknik
1. Prof. AT. Barus, Ahli Nuklir Pertama Indonesia, Guru Besar USU
2. Prof. I Sinisuka, Guru Besar ITB
3. Victor Ginting, Ph.D, Dosen Universitas Top Amerika Serikat
4. Dan lainnya

Politik
1. Thomas Sinuraya, Tokoh Elit Politik Indonesia di Benua Eropa
2. Djamin Ginting, Pendiri Gakari Cikal Bakal Golkar
3. Selamat Ginting, Tokoh Penting PNI Marhaenis, Anak Angkat Presiden Sukarno
4. Simpang Ginting, Tokoh Penting PNI Marhaenis, Anak Angkat Presiden Sukarno
5. Nerus Ginting Suka, Calon Wakil Presiden RI
6. Thomas Sitepu, Singa Podium 66, Tokoh Penting Golkar, Anggota DPRD Jawa Barat
7. Prof. Ramlan Surbakti, Ketua KPU, Guru Besar Airlangga
8. Sutradara Ginting, Sekjen PDIP, Anggota DPR RI
9. Ketua Partai Katolik Indonesia
10. Ferianta Tarigan, Ketua Partai PDS Jakarta
11. Garda Sembiring, Tokoh Penting PRD
12. Dan lainnya

Hukum
1. Prof. Adrianus Meliala, Pakar Kriminolog Indonesia, Guru Besar UI
2. Purnama Ginting Munthe, Kejatisu
3. Kepala Kejaksaan lainnya
4. Dan lainnya

Ekonomi Akuntansi
1. Prof. Jonathan Sembiring, Guru Besar USU
2. Dan lainnya

Kedokteran
1. dr. Santoso Karo-Karo, ahli Jantung
2. dr. Jaman Kaban, Psikiater
3. Dan lainnya

Pertanian
1. Prof. Meneth Ginting, Guru Besar USU, Pakar Pertanian
2. Prof. Naik Sinukaban, Guru Besar IPB, Pakar Pertanian
3. Dan lainnya

Sejarah
1. Prof. Masri Singarimbun, Pendiri KB, Guru Besar UGM, Antropholog
2. Prof. Payung Bangun, Guru Besar UKI Jakarta, Antropholog
3. Juara Ginting, Ph.D, Antropholog
4. Dan lainnya

Psikologi
1. Mestika Pincawan, Psikolog Terkenal di Jakarta
2. Loreta Karo Sekali, Ph.D
3. Dan lainnya

Bahasa dan Sastra
1. Djaga Depari, Komponis dan Pencipta Lagu
2. Amir Hamzah Peranginangin, Pujangga 45
3. Prof. Henry Guntur Tarigan, Guru Besar UPI Bandung, Budayawan
4. Ita Sembiring, Pengarang
5. Dan lainnya

Agama
1. Megit Brahmana, Pendeta Hindu
2. Pdt. Kryuft, Evangelist GBKP
3. Pdt. Neuman, Evangelist GBKP
4. Pdt. Joustra, Evangeilst GBKP
5. Pdt. Mindawati Peranginangin, Ph.D, Pendeta GBKP, Tokoh Kristen Asia
6. Pdt. EP. Ginting, Ketua PGI
7. Pdt. Jadiaman Perangin-angin, Moderamen GBKP
8. Pdt. Imanuel Munthe, Gereja Kemenangan Iman
9. Pdm. Advent Bangun, Gereja Tiberias
10. Dan lainnya

Olahraga
1. Merlep Purba, Pecatur Indonesia, Pertahanan Hindia Belanda?
2. Monang Sinulingga, MN, Pecator Top Indonesia
3. GM Cerdas Barus, Pecatur Terbaik Indonesia
4. Nasib Ginting, MI, Pecatur Top Indonesia
5. Masa Sitepu, MN, Pecatur Nasional
6. Maksum Firdaus Sembiring, MF, Pecatur Nasional
7. Sri Rahayu Sinuhaji, MFW, Pecatur Nasional
8. Iwan Karo-Karo, Pemain Sepak Bola Nasional
9. Dan Lainnya

Seniman
1. Tarigan, Sutradara
2. Joey Bangun, Sutradara
3. El Manik, Aktor Top
4. Sakurta Ginting, Aktor
5. Reynold Surbakti, Aktor Top
6. Ramona Purba, Penyanyi Pop
7. Tio Fanta Pinem, Penyanyi Pop
8. Santa Hoki Ginting, Penyanyi Pop
9. Bams Bukit, Penyanyi Top
10. Dan Lainnya

Lagu Lagu T.karo melegenda

Beberapa lagu batak karo yang Melegenda
Taneh Karo Simalem (Lagu Kebangsaan)
Erkata Bedil (Bukan dari Tapanuli)
Piso Surit (Bukan dari Aceh)
Bulung Erdeso (Penghormatan terhadap Mereka yang tewas di medan perang)
Family Taxi (Kisah Alat Transportasi Jaman Dahulu)
O Turang (Soundtrack film ‘Oh Turang’)
Maba Kampil (Lagu pernikahan)
Simalungun Rayat (Pemberkatan)
Si Kacang Koro
Mejuah – Juah
Bunga Rampe
Gerdang Gerdungen
Lasam – Lasam
Pinta – Pinta
Sarudung Erdoah – Doah
Bulanna Simacem – Macem
Ngepkep Ate Jadi
Ngelajang Bana
Rasamken Kekelengen
Ngulihi Ate Ngena
Mbiring Manggis

Beberapa Keunikan Kita Kalak Karo

1. Bertani Sebagian besar orang Karo adalah petani alamiah. Hasil pertanian Taneh Karo mengisi kebutuhan sayuran dan buah Masyarakat Sumatera Utara, Pulau Sumatera, Jakarta, Bandung bahkan Malaysia dan Singapura. Beberapa produk terkenal dari Taneh Karo adalah: Jeruk Brastagi/Medan, Markisah Brastagi, Biwa Karo, Kopi Karo, Pisang Barangan Medan dan lain-lain.

2. Kedai kopi Kedai Kopi merupakan ‘rumah diskusi’ bagi orang Karo. Di kedai kopi biasanya diadakan tukar informasi mengenai perkembangan, khususnya pertanian, politik dan pendidikan.

3. Catur Karo

Setiap Kedai Kopi Karo pasti ada meja catur. Selain catur internasional dikenal juga Catur Karo (Sator Karo). Beberapa varian Catur Karo:
1. Dua Menteri vs 3 Benteng + 3 pion
2. Meja penuh
3. ‘Perang Kuno’, disini ada kuda yang biasanya ditandai dengan ikat, kuda ini sama
sekali tidak boleh dimakan dan dinamai dengan ‘kuda keramat’.
Banyak pecatur tangguh Indonesia dari Karo, diantaranya: Merlep Purba, Monang Sinulingga, MN, GM Cerdas Barus, MI Nasib Ginting, Maksum Firdaus, MF, Tuti Rahayu Sinuhaji, MFW, Masa Sitepu, MN dll.
4.Bernyanyi Orang Karo termasuk suka bernyanyi dan biasanya diiringi dengan kulcapi (alat music tradisional Karo) atau dengan gitar. Pabrik gitar terbesar di Asia Tenggara pernah ada di Brastagi
5. Kerja Tahun Ini adalah pesta yang diadakan tiap-tiap tahun. Ini adalah bentuksilaturahmi antara Keluarga Karo yang berjauhan tempat tinggal. Merdang Merdem ini diadakan selama tujuh hari. Menu utama disini adalah daging sapi, salah satunya adalah trites (pagit-pagit). Setiap pesta Merdang Merdem diiringi dengan acara perkolong-kolong yaitu tarian yang dipimpin oleh perkolong-kolong laki-laki dan perkolong-kolong perempuan.

Bahasa Karo

Jangan katakan dirimu Karo

Kalau kau tidak bisa berbahasa Karo

Buka saja topeng kekaroanmu

Karena aku benci Karo Dibalik Topeng

(Joey Bangun, KARO DIBALIK TOPENG)

 

Berapa diantara kita yang membaca tulisan ini yang mengerti, atau bisa/fasih/pasif menuturkan bahasa Karo? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab kepada saya. Tapi cukup dijawab di hati saudara. Coba sekali lagi renungkan penggalan monolog yang saya tuliskan di atas dan coba raba-raba dimanakah kedudukan anda sekarang. Selagi anda masih meraba-raba, saya sudah menyimpulkan “kebudayaan Karo diambang krisis identitas”.

Dalam ilmu antropologi bahasa/language dikenal dengan sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia, dan yang digunakan sebagai sarana interaksi antar manusia. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Di sisi lain dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan sebuah identitas suku/bangsa.

Sangat lucu, misalnya, jika seorang Karo memperkenalkan dirinya pada orang lain yang bukan orang Karo, “Saya adalah orang Karo.” Lalu orang non Karo itu bertanya, “Bagaimana bahasa Karo?” Orang Karo itu bingung bukan kepalang. Karena pada dasarnya dia memang tidak tahu bahkan tidak mau belajar bahasa Karo. Justru dia lebih lancar berbahasa Inggris daripada bahasa ibunya sendiri. Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa ibunya, sedang bahasa Karo adalah bahasa ibu tirinya.

Sekarang menjadi pertanyaan bagi kita, “Bagaimana kita menunjukkan kepada semua orang tentang eksistensi suku Karo wong kita sendiri tidak tahu bahasa Karo.” Berpikirlah yang logis dan tidak usah muluk-muluk. Untuk apa kita berbuat begini atau begitu demi Karo sedang kita sendiri tidak menjadikan bahasa Karo bagian dalam hidup kita. Bahasa Karo sudah dianggap bukan bagian yang penting dalam akhlak kehidupan. Disinilah awal krisis identitas itu.

Sumatera Utara memang unik. Propinsi terbesar di pulau Andalas itu terdiri dari 8 suku bangsa dengan 8 bahasa yang berbeda pula. Jadilah Medan sebagai ibukota propinsi sebagai kota multi etnis. Dan tentu saja semu suku berbaur menjadi satu. Maka bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan dikenal oleh semua suku-suku itu dijadikan sebagai alat interaksi.

Kalau memang maksud cita-cita dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tentu saja cita-cita tersebut sudah terwujud di Medan. Namun ketika kita berbicara tentang bahasa sebagai identitas suatu suku/bangsa, atau katakanlah suku Karo dengan bahasanya, maka kita perlu was-was dengan keadaan ini.

Persoalan ini sebenarnya kompleks. Sedari kecil kita tidak pernah membiasakan diri berbahasa Karo. Kesalahan tentu saja tidak berpusat pada si anak dan lingkungannya. Namun lebih dititikberatkan pada sang orang tua yang tidak pernah membiasakan anaknya berbahasa Karo di rumah. Jadilah sang anak tidak paham berbahasa Karo.

Kecendrungan seperti ini tidak hanya terjadi pada masyarakat Karo. Menurut Arif Rachman, Guru Besar bidang ilmu pendidikan bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, “Kondisi bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia yang sangat banyak ini ternyata hanya digunakan oleh minoritas masyarakat dan tergeser oleh bahasa-bahasa yang dianggap universal, seperti bahasa Inggris dan bahasa resmi negara masing-masing. Indikasi ini mencerminkan bahwa bahasa-bahasa daerah yang masuk dalam kategori bahasa mayoritas, tetapi minoritas pemakaiannya, secara perlahan akan mengalami kepunahan.”

Dari apa yang dikatakan Arif Rahman di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa daerah bukan lagi merupakan bahasa mayoritas yang dipakai oleh sebuah etnik. Tetapi telah tergantikan oleh bahasa dominan yang dipakai masyarakat oleh negara itu.

Pemikiran di atas dapat disimpulkan, bahasa Karo bukan lagi merupakan bahasa mayoritas yang dipakai masyarakat Karo tetapi sudah menjadi bahasa minoritas.

Kesimpulan ini dikuatkan dengan fakta mayoritas masyarakat Karo saat ini tinggal di luar Karo. Hal ini menuntut masyarakat Karo itu untuk berbaur dengan berbagai etnis di tempat dia tinggal. Tentu saja dia akan menggunakan bahasa mayortitas disana apakah bahasa Indonesia atau bahasa daerah tempat dia tinggal. Jadilah bahasa Karo sebagai bahasa minoritas.

Untung saja bahasa Karo terbantu adanya beberapa komunitas arisan/perpulungen di kalangan Karo perantauan, Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang liturginya sampai saat ini eksis dengan bahasa Karo walau di beberapa tempat waktu-waktu tertentu sudah menggunakan memakai bahasa Indonesia, Komunitas Karo Muslim, hingga Komunitas Karo Katolik.

Namun sayangnya keinginan belajar bahasa Karo tidak lahir dari diri sendiri. Efeknya bahasa Karo tidak populer dan ditinggalkan. Mungkinkah bahasa Karo akan punah? Lakukan sesuatu untuk itu!

nama orang karo unik (-_-)??//Hehehhehehe

Setiap kali berkenalan dan saya menyebut nama saya dan asal usul sebagai suku Batak Karo, teman teman saya pasti tertawa sambil menyebutkan nama nama lain yang memang kedengarannya unik dan lucu;

“ Kursi Singarimbun”, “Batu Tarigan” , “Meja Sembiring”, “Sopan Gurusinga” “Telah Bangun”, “Analgin Ginting” bahkan “Welcome Sitepu”.

Saya yakin Anda pun, saat membaca tulisan ini pasti tertawa terbahak bahak, karena lucunya nama nama di atas. Dan nama itu memang benar benar ada.

Lalu ada lagi nama nama nama yang diambil dari daerah lain, “Suharto Tarigan”, “Syaiful Bahri Karo Karo”, “Tertib Sinulingga”, “Terbit Bukit” .

Sebenarnya apa yang mendasari pemberian nama itu sehingga begitu ringkas dan seolah olah “asal” saja, adalah karena pemahaman orang orang Karo terdahulu bahwa semua benda itu mempunyai roh.

Meja itu punya roh, kursi itu punya roh, bahkan apapun yang saat itu diingat oleh sang ayah dan ibu adalah karena roh juga. Misalnya saat mau memberi nama anaknya, dia teringat akan kata Welcome, maka segera akan memberi nama anaknya welcome. Karena pada saat itu dia berfikir roh si meja, roh si kursi , roh si batu atau roh si welcome akan menjadi pendamping dan penolong anaknya sepanjang hidupnya.

Semua benda punya roh, atau semua benda dan zat punya hidup, adalah kepercayaan para filsuf Yunani Kuno yang beraliran Hylozoisme (Hylozoismà Hyle adalah benda atau zat, zoa adalah hidup). Saya tidak ingin mengatakan bahwa Orang Karo beraliran filsafat Hylozoisme, atau keturunan Yunani. Tapi sebenarnya ada kecerdasan berbudaya dibalik pemberian nama yang lucu lucu itu. Apa dampak dan hasilnya, paling tidak ada dua.

1. Sistem kekerabatan Karo sangat kental dan sangat kuat. Nama nama yang lucu tadi karena unik dan tiada duanya segera memperkenalkan bahwa penyandang namanya orang Karo. Khususnya bagi orang Karo yang merantau, begitu mendengar namanya saja, misalnya ” Meja S” langsung dia berfikir, ‘pasti penyandang nama ini orang karo’. Memang risikonya namanya sering ditertawai dan dipelesetken orang suku lain. Hahahahha. Atau kalau namanya “Batu” pasti semuo orang karo tahu bahwa penyandang nama “Batu” itu adalah orang Karo bermarga Tarigan. Sesama orang karo tidak pernah melecehkan atau menertawai nama sahabatnya, apapun nama itu. Bahkan ada juga nama teman saya “ Keranjang Barus”.

2. Hasil yang kedua adalah penguatan nama panggilan. Umumnya setelah dia berkeluarga. Seorang laki laki atau perempuan ketika dia sudah dewasa dan mempunyai anak, maka dia memperoleh panggilan sebagai ibu anaknya. Katakanlah nama anaknya itu Eddy, maka dia akan dipanggil Ibu Si Eddy atau “ Nande Eddy”. Sedangkan Bapaknya akan dipanggil Bapa Si Eddy adat Pa Eddy. Jadi apapun tadinya namanya, maka setelah dia berkeluarga dan punya keturunan, maka panggilannya berubah yang maknanya penguatan peran nya, keberadaannya serta tanggung jawabnya. Soal tanggung jawab kepada anak, memang sangat kental dalam kesadaran orang Karo ataupun orang Batak secara keseluruhan.

Sekarang nama nama Orang Karo itu sudah sangat modern, tidak ada bedanya dengan nama nama suku yang lain. Vicky Ebraldi Sinulingga, Kevin Kehaganta Sembiring, James Putra Al Shalom Ginting, Rachel Cantik Jelita Br Sitepu dan lain lain. Bahkan banyak orang karo sudah mulai meninggalkan marganya. Nama anaknya sangat modern, Misalnya John Barnes Tarigan, tapi Tarigannya dihilangkan sehingga hanya dipanggil John Barnes saja.

Post Navigation

%d blogger menyukai ini: